November 18, 2011

Kisah Pembawa Ember dan Pembuat Pipa (1)

Disuatu Lembah Italy, Zaman dahulu kala sekitar tahun 1801 ada 2 orang sahabat yang tinggal dilembah itu, yang pertama bernama Pablo dan yang kedua bernama Bruno. Ke-2 anak muda itu merupakan orang-orang yang berkualitas, mempunyai semangat dan ambisi yang kuat untuk menggapai tujuannya, serta memiliki cita-cita yang tinggi. 

Mereka berdua pun berkhayal, berharap suatu hari nanti mereka akan menjadi orang yang paling kaya didesa itu. Mereka berdua sama-sama cemerlang dan sangat tekun dalam bekerja, yang mereka perlu hanyalah kesempatan mewujudkan impian itu. 

Seperti kata pepatah "KESIAPAN haruslah bertemu dengan KESEMPATAN". Saat ini yang mereka tunggu adalah kesempatan emas agar apa yang diinginkan dan dicita-citakan segera terwujud.




Pada suatu hari kesempatan emas yang mereka tunggu selama ini akhirnya datang, kepala desa memberi pekerjaan kepada mereka untuk mengangkut air dari danau ke desanya untuk memenuhi kebutuhan air warga desanya. Setiap ember yang terisi penuh, mereka akan menerima bayaran 1 sen. Jadi, kalau satu hari bisa mengangkut 20 ember maka mereka akan memperoleh penghasilan 20 sen.





Tanpa menunggu perintah selanjutnya, keduanya langsung membawa dua buah ember dan segera menuju danau. Sepanjang siang keduanya mengangkut air dengan menggunakan ember.

Menjelang sore, tempat penampungan air sudah penuh sampai kepermukaan dan kepala desa pun menggaji kedua pemuda tersebut berdasarkan jumlah ember yang mereka bawa.

"Woouw... Apa yang aku cita-citakan selama ini akan segera terwujud!" teriak Bruno gembira. "Rasanya sulit dipercaya, kita mendapatkan penghasilan sebanyak ini".


Namun Pablo tidak demikian, Dia tidak begitu yakin kalo pekerjaannya yakni mengangkat ember dari danau ke desa akan membuatnya cepat kaya. Setibanya dirumah Pablo merasakan Punggungnya nyeri dan kedua telapak tangannya lecet-lecet, dan itu semua disebabkan karena sepanjang hari tadi Pablo membawa dua ember berat berisi air penuh yang dibawanya bolak balik dari sungai ke desa.

Begitu pagi tiba, perasaan Pablo mulai kecut karena harus berangkat kerja, dia tidak ingin punggung dan tangannya bermasalah lagi. Lalu Pablo mulai berpikir keras bagaimana caranya memindahkan air dari danau ke desanya tanpa harus terluka, tanpa harus menanggung rasa nyeri dipunggung, tanpa harus melakukan pekerjaan itu seumur hidupnya.

Keesokan harinya setelah semalam tidak bisa tidur memikirkan jalan keluar dari pekerjaan mereka berkatalah Pablo kepada Bruno. " Bruno.. aku punya rencana, dari pada kita mondar-mandir setiap hari membawa ember dari danau ke desa dan hanya mendapatkan beberapa sen per-hari, mengapa tidak sekalian saja kita membangun Saluran Pipa air dari danau ke desa kita ?"

Mendengar temannya punya ide aneh tersebut, Bruno tersentak, "Saluran Pipa? Ide dari mana itu ? Kita kan sudah mempunyai pekerjaan yang bagus dan menghasilkan uang. Pablo, Aku bisa membawa 100 ember dalam sehari itu berarti penghasilan yang akan aku dapatkan bisa 100 sen per-hari ! Aku akan menjadi orang kaya, bisa hidup senang", jawab Bruno.




"Dan pada akhir minggu saya bisa membeli sepatu baru, pada akhir bulan saya bisa membeli seekor sapi, dan pada akhir tahun saya sudah mampu untuk membangun rumah. Kamu melihat, tidak ada pekerjaan semenguntungkan seperti mengangkut air di desa ini. Lagipula, pada setiap akhir minggu kita mendapat libur. Dan setiap akhir tahun kita juga mendapat hak cuti dua minggu. Jadi buang jauh-jauh idemu untuk membangun pipa airmu itu".


Tapi Pablo tidak putus asa. Dia tetap bersikukuh pada idenya itu, dengan sabar dia menerangkan bagaimana proses membangun pipa saluran air kepada sahabatnya. Namun Bruno tidak tertarik sedikitpun tawaran dari Pablo.

Akhirnya...
Pablo memutuskan untuk menjalankan idenya itu sendiri. Dia bekerja untuk paruh waktu saja, Setengah hari dia mengangkut ember untuk mendapatkan penghasilan dan bisa membiayai hidupnya sehari-hari lalu sisa waktunya ditambah hari libur di akhir minggunya dia pakai untuk membangun saluran pipanya itu.


Sejak awal melakukan pekerjaan ini, Pablo menyadari bahwa akan sulit membangun saluran pipa itu kedesanya. Menggali tanah keras yang banyak batu kerikil dan kostur tanah yang naik turun sangatlah jelas tak kalah menyakitkan dengan luka lecet dan punggung nyeri karena mengangkut air. Pablo pun juga menyadari bahwa upah yang dia terima sekarang ini berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, maka jelas secara otomatis penghasilannya akan menurun.

Dan Dia juga sangat paham sekali bahwa untuk menghasilkan saluran pipa air ke desanya membutuhkan waktu 1 sampai 2 tahun agar pipanya dapat berfungsi seperti yang diharapkan. Namun Pablo tak pernah kendur dengan keyakinannya itu, dia tahu persis akan impian dan cita-citanya. Sebab itu dia terus bekerja tanpa kenal lelah. Melihat apa yang dilakukan Pablo, orang-orang desa dan Bruno mulai mengejek Pablo.
Mereka menyebutnya "Pablo si manusia saluran pipa".


Bruno yang punya penghasilan dua kali lipat dibandingkan pablo, hampir setiap saat membangga-banggakan barang baru yang berhasil dibelinya. Dia juga selalu mengatakan Pablo bodoh, karena telah meninggalkan pekerjaan yang jelas-jelas menghasilkan banyak uang itu. Bruno juga telah berhasil membeli seekor sapi, dia juga sering terlihat untuk makan diwarung-warung sehingga orang desa pun memanggilnya Mr.Bruno!

Mereka selalu menyambutnya kemanapun ia pergi, Bruno pun tak segan-segan mentraktir para penyambutnya ini dengan minum-minum di Bar.

(bersambung..)  
TINDAKAN-TINDAKAN KECIL DENGAN HASIL BESAR 


*Bagaimanakah kelanjutan kisah Pablo dan Bruno? Apakah Pablo akan menjadi pecundang sejati? Anda bisa membaca kelanjutannya di sini.*


*Anda juga bisa menonton videonya di sini*